anak jembatan

•April 2, 2011 • 1 Komentar

ngadem cah do neng kampus De3 kapal….semangate cah2 Gallus…tak turu ah…..

 

 

 

 

 

laporan pkl

•Februari 20, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

Ternak kambing khususnya kambing Peranakan Ettawa (PE), merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan penting artinya bagi masyarakat. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki peluang yang cukup besar dengan semakin sadarnya masyarakat akan kebutuhan gizi yang perlu segera dipenuhi.

Peternakan kambing dalam perkembanganya tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak hal yang menjadi masalah dalam perkembanganya, beberapa masalah tersebut adalah : (1) pemeliharaan yang masih bersifat tradisional;         (2) terbatasnya ketersediaan bakalan yang merupakan pengeluaran terbesar dalam suatu proses produksi; (3) keterbatasan fasilitas yang menimbulkan efek langsung pada proses produksi; (4) manajemen pakan yang kurang baik.

Berbekal dari pengalaman yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa dapat mengetahui masalah yang timbul dan solusi yang diperlukan dalam proses tatalaksana pemeliharaan ternak serta lebih siap dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu, mahasiswa memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berharga dalam tatalaksana pemeliharaan ternak yang baik.

Tujuan dari PKL ini adalah untuk belajar bekerja secara langsung dalam pengelolaan usaha peternakan kambing PE yang ditekankan pada tatalaksana pemeliharaan dan tata cara pemberian pakan, serta pemberian vaksin atau pemberian obat pada ternak yang terkena penyakit di peternakan kambing Peranakan Ettawa KUD/KTT Sumber Makmur Mayong, Jepara.

Manfaat yang diperoleh dari PKL adalah mahasiswa mampu merasakan dan menganalisa masalah-masalah yang ada pada usaha peternakan kambing PE, yang pada gilirannya mampu menerapkan strategi yang tepat untuk pemecahannya serta memberi tambahan informasi dan wawasan ilmu pengetahuan di bidang peternakan. Selain itu, mahasiswa memiliki pengalaman praktis dalam kegiatan pengelolaan peternakan kambing PE sebagai bekal kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Usaha Beternak Kambing

Kambing banyak dipelihara oleh penduduk pedesaan (Mulyono, 2003). Dijelaskan lebih lanjut, alasannya pemeliharaan kambing lebih mudah dilakukan daripada ternak ruminansia besar. Kambing cepat berkembang biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat besar. Menurut Sarwono (2005), nilai ekonomi, sosial, dan budaya beternak kambing sangat nyata. Dijelaskan lebih lanjut, besarnya nilai sumber daya bagi pendapatan keluarga petani bisa mencapai 14-25 % dari total pendapatan keluarga dan semakin rendah tingkat per luasan lahan pertanian, semakin besar nilai sumber daya yang diusahakan dari beternak kambing. Pendapatan dan nilai tambah beternak kambing akan semakin nyata jika kaidah-kaidah usaha peternakan diperhatikan. Kaidah-kaidah itu antara lain penggunaan bibit yang baik, pemberian pakan yang cukup dari segi gizi dan volume, tatalaksana pemeliharaan yang benar, serta memperhatikan permintaan dan kebutuhan pasar.

Kambing adalah hewan dwi guna, yaitu sebagai penghasil susu dan sebagai penghasil daging (Williamson dan Payne, 1993). Kambing PE adalah bangsa kambing yang paling populer  dan dipelihara secara luas di India dan Asia Tenggara (Devendra dan Burns, 1994). Ciri-ciri kambing PE adalah warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih, hidung melengkung, rahang bawah lebih menonjol, jantan dan betina memiliki tanduk, telinga panjang terkulai, memiliki kaki dan bulu yang panjang (Sosroamidjojo, 1991). Kambing PE telah beradaptasi  terhadap kondisi dan habitat Indonesia (Mulyono, 2003).

Mulyono dan Sarwono (2005) menyatakan, bila tata laksana pemeliharaan ternak kambing yang sedang bunting atau menyusui dan anaknya baik, maka  bobot anak kambing bisa mencapai 10-14 kg/ekor ketika disapih pada umur 90-120 hari. Menurut Williamson dan Payne (1993), untuk kambing pedaging ada kecenderungan menunda penyapihan untuk memberikan kesempatan anak kambing memperoleh keuntungan yang maksimal dari susu induknya.

2.2. Sistem Pemeliharaan

Sistem pemeliharaan secara ekstensif umumnya dilakukan di daerah yang mahal dan sulit untuk membuat kandang, kondisi iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira tiga sampai dua belas ekor kambing per hektar (Williamson dan Payne 1993). Sistem pemeliharaan secara ekstensif, induk yang sedang bunting dan anak-anak kambing yang belum disapih harus diberi persediaan pakan yang memadai (Devendra dan Burns, 1994). Rata-rata pertambahan bobot badan kambing yang dipelihara secara ekstensif dapat mencapai 20-30 gram per hari (Mulyono dan Sarwono, 2005).

Sistem pemeliharaan secara intensif memerlukan pengandangan terus menerus atau tanpa penggembalaan, sistem ini dapat mengontrol dari faktor lingkungan yang tidak baik dan mengontrol aspek-aspek kebiasaan kambing yang merusak (Williamson dan Payne 1993). Dalam sistem pemeliharaan ini perlu dilakukan pemisahan antara jantan dan betina, sehubungan dengan ini perlu memisahkan kambing betina muda dari umur tiga bulan sampai cukup umur untuk dikembangbiakkan, sedangkan untuk pejantan dan jantan harus dikandangkan atau ditambatkan terpisah (Devendra dan Burns, 1994). Pertambahan bobot kambing yang digemukkan secara intensif bisa mencapai 100-150 gram per hari dengan rata-rata 120 gram per hari atau 700-1.050 gram dengan rata-rata 840 gram per minggu (Mulyono dan Sarwono, 2005).

Sistem pemeliharaan secara semi intensif merupakan gabungan pengelolaan ekstensif (tanpa penggembalaan) dengan intensif, tetapi biasanya membutuhkan penggembalaan terkontrol dan pemberian pakan konsentrat tambahan (Williamson dan Payne 1993). Menurut Mulyono dan Sarwono (2005), pertambahan bobot kambing yang digemukkan secara semi-intensif, rata-rata hanya 30-50 gram per hari.

2.3. Pakan

Menurut Sarwono (2005), kambing membutuhkan hijauan yang banyak ragamnya. Kambing sangat menyukai daun-daunan dan hijauan seperti daun turi, akasia, lamtoro, dadap, kembang sepatu, nangka, pisang, gamal, puteri malu, dan rerumputan. Selain pakan dalam bentuk hijauan, kambing juga memerlukan pakan penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Pakan penguat dapat terdiri dari satu macam bahan saja seperti dedak, bekatul padi, jagung, atau ampas tahu dan dapat juga dengan mencampurkan beberapa bahan tersebut. Sodiq (2002) menjelaskan, ditinjau dari sudut pakan, kambing tergolong dalam kelompok herbivora, atau hewan pemakan tumbuhan. Secara alamiah, karena kehidupan awalnya di daerah-daerah pegunungan, kambing lebih menyukai rambanan (daun-daunan) daripada rumput. Menurut Kartadisastra (1997), kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan, dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting atau menyusui), kondisi tubuh (sehat, sakit), dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur dan kelembaban nisbi udara).

Pakan sangat dibutuhkan oleh kambing untuk tumbuh dan berkembang biak, pakan yang sempurna mengandung kelengkapan protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral (Sarwono, 2005). Pemberian pakan dan gizi yang efisien, paling besar pengaruhnya dibanding faktor-faktor lain, dan merupakan cara yang sangat penting untuk peningkatan produktivitas (Devendra dan Burns, 1994).

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1.      Lokasi dan Waktu

Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan mulai tanggal 1 sampai 30 Agustus 2007. Lokasi kegiatan PKL ini adalah KUD/KTT Sumber Makmur Mayong, Jepara.

3.2.      Metode

Metode yang digunakan dalam PKL ini adalah partisipasi aktif dalam proses pemeliharaan dan observasi secara langsung yaitu dengan mengamati proses pemeliharaan di peternakan. Kegiatan yang dilakukan dalam PKL ini antara lain tatalaksana pengumpulan dan pemberian pakan serta pengelolaan ternak.

Kegiatan pengumpulan dan pemberian pakan ini meliputi : (1) Mengikuti kegiatan dalam pengumpulan pakan di gudang pakan; (2) Mengetahui harga bahan pakan; (3) Mengikuti proses pembuatan konsentrat serta mengetahui komposisi bahan pakan dalam konsentrat; (4) Menimbang pakan konsentrat maupun hijauan yang diberikan untuk ternak dan sisa pakan besok harinya (untuk mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi); (5) Melakukan kegiatan dalam pemberian pakan yang diberikan untuk ternak, serta pemberian obat-obatan dan vitamin.

Kegiatan pengelolaan ternak ini meliputi : (1) Mengikuti kegiatan yang dilakukan dalam pemeliharaan atau pengelolaan ternak; (2) Mengetahui cara pencatatan atau recording pada ternak; (3) Mengikuti kegiatan sanitasi ternak dan kandang; (4) Melakukan pengobatan pada ternak yang sakit; (5) Melakukan penimbangan ternak pada awal dan akhir PKL untuk mengetahui pertambahan bobot badan harian (PBBH) ternak.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Keadaan Umum

Lokasi KUD/KTT Sumber Makmur terletak di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Kecamatan Mayong memiliki batas wilayah di sebelah Barat dan Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kudus, sebelah Timur dengan Kecamatan Margoyoso dan sebelah Barat dengan Kecamatan Welahan.

Kecamatan Mayong terletak pada ketinggian 300 meter dari permukaan air laut dengan curah hujan rata-rata 1.440 mm/tahun. Rata-rata suhu di Kecamatan Mayong adalah 25-32 °C. Kecamatan Mayong termasuk daerah tropis seperti yang dinyatakan oleh Williamson dan Payne (1993), bahwa daerah tropis memiliki suhu yang konstan, suhu musiman rata-rata bervariasi sekitar 27 0C. Suhu yang ada di daerah tropis cukup nyaman untuk kambing PE. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Devendra dan Burns (1994), bahwa populasi kambing di daerah tropis yang lebih tinggi dari pada di daerah lain mencerminkan bahwa ternak ini dapat diterima dengan baik di beberapa tempat di daerah tropis. Kambing Peranakan Ettawa telah beradaptasi terhadap kondisi dan habitat Indonesia (Mulyono, 2003).

4.2. Keadaan Umum Peternakan

Peternakan kambing di KUD/KTT Sumber Makmur didirikan pada tahun 1999 di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, dengan badan Hukum nomor 105/17 H/KWK. 11-12/01/99. Usaha peternakan ini diawali dari usaha simpan pinjam antar anggota dan sekarang sudah mempunyai 60 anggota. Jumlah kambing yang ada sampai sekarang sebanyak 82 ekor dengan rincian kambing jantan 17 ekor, betina 63 ekor dan cempe sebanyak 2 ekor. Sebagian besar kambing dipelihara menjadi satu atau dalam kandang koloni dan sebagian lagi diberikan kepada anggota dengan sistem kemitraan. Perbandingan keuntungan yang didapat dari sistem kemitraan antara anggota dengan pengurus adalah induk diberikan kepada anggota koperasi dan setelah induk tersebut mempunyai anak, lalu anaknya sebanyak dua ekor (betina) lepas sapih diberikan kepada pengurus, tanpa adanya batas waktu yang ditentukan oleh pengurus kepada anggota.

Luas lahan yang dimiliki peternakan ini adalah 1.569 m2, yang digunakan untuk kandang ternak 169 m2 dan untuk lahan pakan 1.400 m2. Lokasi perkandangan dengan pemukiman penduduk berjarak ± 5 m, sedangkan untuk jarak dengan sumber air ± 4,5 m. Ketersediaan lahan hijauan yang termasuk kecil ini, sudah dapat mencukupi kebutuhan pakan ternak. Lahan untuk kandang kambing sudah cukup untuk menampung kambing yang dimiliki di peternakan ini. Apabila kandang tidak mencukupi, maka kambing akan di titipkan kepada anggota koperasi. Menurut Blakely dan Blade (1998), kambing memiliki sifat yang unik, karena mudah dipelihara dan hanya memerlukan lahan yang tidak luas serta sangat tangguh.

Jumlah pekerja di peternakan ini sebanyak 1 orang, yang bertugas penuh mulai dari pengadaan pakan, pemberian pakan sampai sanitasi. Tenaga kerja berasal dari daerah Salatiga. Gaji pekerja Rp. 800.000,- per bulan. Kegiatan yang dilakukan setiap hari adalah mengambil rumput di ladang, memberi pakan rumput dan konsentrat, membersihkan sisa pakan di palung pakan dan setiap satu minggu sekali membersihkan feses di lantai kandang. Pekerja kandang bekerja dari jam 07.00 – 17.00 WIB, dengan masa istirahat selama 1 jam yaitu jam 12.00-13.00 WIB setiap harinya dan tanpa ada hari libur. Biasanya, semua anggota koperasi selalu membantu.

Tipe kandang yang dimiliki di KUD/KTT Sumber Makmur merupakan tipe kandang panggung, sehingga ternak tidak langsung bersentuhan dengan lantai bawah kandang, akibatnya ternak tidak mudah terserang penyakit. Menurut Mulyono (2003), kandang panggung merupakan kandang yang konstruksinya dibuat panggung atau di bawah lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran. Kolong dapat menghindari kebecekan, menghindari kontak dengan tanah yang mungkin tercemar penyakit, dan memungkinkan ventilasi kandang yang lebih bagus.

Kandang di KUD/KTT Sumber Makmur mempunyai konstruksi yang kuat. Dinding kandang terbuat dari kayu yang disusun sedemikian rupa, supaya sinar matahari dapat masuk, dengan tiang penyangga yang terbuat dari kayu balok dan lantai yang disusun untuk memudahkan dalam sanitasi (Ilustrasi 1). Hal ini sesuai pendapat  Devendra dan Burns (1994) yaitu, apapun tipe kandang, kandang itu harus mendapat cukup sinar matahari, ventilasi serta drainasi yang baik dan mudah untuk dibersihkan. Dinding kandang di KUD/KTT Sumber Makmur mempunyai tinggi 1,4 m, sehingga ternak mudah bergerak. Tinggi palung 33 cm, sehingga ternak merasa nyaman, dan mudah mencapai pakan di palung. Ukuran kandang setiap ekor kambing di KUD/KTT Sumber Makmur memiliki luas 1 x 1,5 m, hal ini sesuai dengan pendapat Sosroamidjojo (1991), kambing adalah ternak kecil yang relatif membutuhkan tempat yang memudahkan untuk bergerak, karena kambing mempunyai temperamen yang selalu bergerak. Untuk seekor kambing dewasa dibutuhkan 1 x 1,5 m2.

Ilustrasi 1. Kandang di KTT/KUD Sumber Makmur.

Atap kandang di KUD/KTT Sumber Makmur mempunyai ketinggian 2,60 m dan terbuat dari asbes. Ketinggian atap yang cukup tinggi ini bertujuan agar sirkulasi udara dalam kandang dapat berjalan lancar, sedangkan penggunan asbes untuk atap karena pemasangannya praktis dan tidak memerlukan waktu yang lama. Menurut Devendra dan Burns (1994), bahan atap harus dapat memberikan perlindungan yang efektif terhadap radiasi matahari. Dijelaskan lebih lanjut, bagian pinggiran atap bagian bawah harus panjang (hingga 1 meter) untuk mencegah hempasan air hujan pada sisi-sisinya.

Konstruksi lantai yang diterapkan di KUD/KTT Sumber Makmur cukup baik, dengan lantai panggung dari kayu dengan celah ± 1,5 cm, sehingga kaki ternak tidak terperosok dan kotoran dapat jatuh ke bawah. Kolong berlantai beton, sebagai tempat penampung urin serta feses untuk sementara (Ilustrasi 2). Tinggi lantai kandang dengan lantai kolong 90 cm. Menurut Devendra dan Burns (1994), dengan adanya temperatur dan curah hujan yang tinggi di daerah tropis dan kerentanan kambing terhadap lantai basah serta serangan parasit, maka kandang kambing yang paling praktis adalah lantainya dibuat agak lebih tinggi dari tanah dan lantainya harus kuat dan tahan lama.

Ilustrasi 2. Kontruksi Lantai Kolong.

4.3. Sistem Pemeliharaan

KUD/KTT Sumber Makmur menggemukan kambing PE jantan untuk penghasil daging dan memelihara kambing PE betina untuk induk, sebagai penghasil anak. Bakalan untuk digemukkan pada awalnya dibeli di pasar hewan. Pemilihan bakalan dilakukan dengan cara melihat cirinya yang mendekati Ettawa yaitu warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih, hidung melengkung, rahang bawah lebih menonjol, jantan dan betina memiliki tanduk, telinga panjang terkulai, memiliki kaki dan bulu yang panjang (Ilustrasi 3) dan kesehatannya. Contoh bakalan yang dipilih dapat dilihat pada Ilustrasi 4. Menurut Murtidjo (2001) pemilihan bakalan kambing yang akan dipelihara oleh peternak tergantung dari selera peternak dan kemampuan modal yang dimiliki. Syarat bakalan kambing yang baik adalah sehat, usia muda, dan tidak terkena penyakit.

Ilustrasi 3. Kambing PE Jantan.

Sistem pemeliharaan yang digunakan di KUD/KTT Sumber Makmur adalah sistem pemeliharaan secara intensif yaitu menempatkan kambing dalam kandang terus-menerus, sehingga memudahkan dalam pemberian pakan dan pemantauan kesehatan ternak. Menurut Williamson dan Payne (1993), sistem ini dapat mengontrol faktor lingkungan yang tidak baik dan mengontrol aspek-aspek kebiasan kambing yang merusak.

Ilustrasi 4. Anak Kambing yang Dipilih untuk Bakalan.

Untuk memudahkan dalam pengontrolan ternak, di KUD/KTT Sumber Makmur sudah mulai melakukan rekording pada ternak. Kegiatan ini dilakukan untuk memudahkan dalam pengelolaan atau pemeliharaan ternak. Hal-hal yang dicatat dalam kartu rekording antara lain jenis kelamin, nomor ternak, penyakit, umur, keadaan ternak dan jenis pakan yang diberikan. Rekording di peternakan ini masih banyak kekurangannya, antara lain belum ada data tentang induk ternak, kebuntingan, dan cara perkawinan (IB atau alami)..

4.4. Pakan

Pakan yang diberikan berupa konsentrat dan hijauan segar yang berupa rumput lapangan dan daun ketela pohon. Pakan hijauan segar diberikan dua kali sehari pada pukul 09.00 WIB dan pukul 14.00 WIB secara terbatas. Pemberian pakan konsentrat dilakukan pada pukul 13.00 WIB dan pukul 17.00 WIB secara ad libitum, yaitu pakan yang selalu tersedia.

Konsentrat yang digunakan oleh KUD/KTT Sumber Makmur adalah buatan sendiri. Bahan baku untuk pembuatan konsentrat diperoleh dari anggota yang juga adalah seorang pengusaha penggilingan padi. Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan konsentrat pada waktu PKL yaitu : bekatul padi, garam, dan tetes tebu (Ilustrasi 5). Hijauan pakan yang diberikan berupa rumput lapangan dan daun ketela pohon yang diperoleh dari lahan setempat. Khusus untuk daun ketela pohon, sebelum diberikan ternak terlebih dahulu dijemur agar ternak tidak keracunan (Ilustrasi 6). Hal ini disebabkan karena daun ketela pohon mengandung HCN atau Asam Sianida (Akoso, 1996). Rumput lapangan dan daun ketela pohon diberikan di dalam palung pakan. Menurut Setiawan dan Tanius (2003), untuk memenuhi kebutuhan pakan setiap hari kambing diberi pakan berupa konsentrat, rumput dan dedaunan. Dijelaskan lebih lanjut, semakin banyak jenis pakan yang diberikan akan semakin baik, karena sifat saling melengkapi diantara bahan-bahan pakan tersebut. Volume pemberian hijauan berbeda-beda berdasarkan bobot hidup dan status fisiologis kambing yang bersangkutan (Sarwono, 2005).

Ilustrasi 5. Penyampuran Konsentrat

Pakan yang diberikan berupa daun ketela pohon, rumput lapangan dan bekatul padi, karena mudah didapatkan dan murah. Selain itu, dari beberapa percobaan, pakan ini lebih cocok diberikan untuk kambing atau ternak kambing lebih menyukainya. Pada awalnya, peternak pernah mencoba memberi kambing dengan pakan jerami fermentasi, namun ternak cenderung tidak menyukainya.

Konsumsi pakan setiap ekor kambing per hari di peternakan ini adalah daun ketela pohon sebanyak 1,9 kg, rumput lapangan sebanyak 0,5 kg, dan bekatul padi sebanyak 2,0 kg. Bahan pakan tersebut dicampur dengan air dan  tetes tebu sebanyak ± 1 ml serta garam sebanyak ± 2 g untuk 82 ekor ternak. Rata-rata konsumsi BK harian per ekor sebanyak 2,18 kg, konsumsi PK sebanyak 0,288 kg. Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 2. Dilihat dari data yang diperoleh, kebutuhan kambing sudah tercukupi. Hal ini dapat dilihat bahwa protein yang di konsumsi sebesar 13,21%. Menurut Jurgens (1993), domba dengan berat ± 25 kg membutuhkan protein sebesar 10-16% agar mempunyai pertambahan bobot badan dan konversi pakan yang maksimal. Pemberian pakan hijauan dilakukan sedikit demi sedikit dan diberikan secara bertahap (Murtidjo, 2001). Sarwono (2005), menyatakan bahwa pemberian konsentrat pada kambing diharapkan dapat memberikan tambahan bobot badan per hari. Sebaiknya pemberian konsentrat tidak diberikan sekaligus, tetapi diselingi dengan pemberian hijauan.

Ilustrasi 6. Daun Ketela yang Dijemur.

Hijauan yang diberikan kepada ternak di KUD/KTT Sumber Makmur, baik daun ketela pohon maupun rumput lapangan diberikan dalam keadaan kering/tidak berembun agar ternak terhindar dari penyakit kembung. Menurut Siregar (1994), pakan yang diberikan sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan zat gizinya terdiri atas rumput lapangan, daun ketela dan konsentrat. Dijelaskan lebih lanjut, hijauan merupakan pakan yang mengandung serat kasar atau bahan tidak tercerna relatif tinggi. Setiawan dan Tanius (2003), berpendapat bahwa secara umum jenis pakan yang diberikan pada kambing Peranakan Ettawa terdiri dari tiga jenis yaitu, pakan kasar, pakan penguat, dan pakan tambahan atau suplemen. Dijelaskan lebih lanjut, pakan kasar merupakan bahan pakan berkadar serat kasar tinggi. Bahan ini berupa pakan hijauan dan dedaunan. Pakan penguat merupakan bahan pakan berkadar serat rendah dan mudah dicerna seperti bekatul, ampas tahu, dan bubur singkong. Bahan pakan suplemen misalnya sejenis probiotik seperti Nutri Simba, yang dicampurkan pada hijauan. Probiotik ini berpengaruh pada peningkatan kesehatan ternak dan dapat mengurangi bau kotoran ternak.

4.5.  Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan pada kambing yang diamati berkisar antara 1 sampai 2 kg dalam satu minggu, seperti dalam Tabel 1.

Tabel 1. Bobot Badan Kambing PE Jantan selama 1 Minggu

No kambing BB Awal (1 Agustus) BB Akhir (7 Agustus) PBBH
1 29 kg 30,0 kg 0,14 kg
2 29 kg 31,0 kg 0,28 kg
3 30 kg 32,0 kg 0,28 kg
4 30 kg 31,0 kg 0,14 kg
5 30 kg 32,0 kg 0,28 kg
6 31 kg 32,0 kg 0,14 kg
7 32 kg 33,0 kg 0,14 kg
8 32 kg 32,5 kg 0,07 kg
9 32 kg 34,0 kg 0,28 kg
10 32 kg 33,0 kg 0,14 kg

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa rata-rata pertambahan bobot badan harian kambing berkisar antara 70 sampai 280 gram. Hasil PBBH ini sangat baik, karena ditunjang oleh pemberian pakan yang baik dari segi jenis, jumlah, dan cara pemberian pakan. Hal ini seperti yang dinyatakan Mulyono dan Sarwono (2005), bahwa pertambahan bobot kambing yang digemukkan secara intensif bisa mencapai 100-150 gram per hari dengan rata-rata 120 gram per hari atau 700-1.050 gram dengan rata-rata 840 gram per minggu.

Hasil dari PBBH dalam Tabel 1 berbeda-beda, meskipun dengan perlakuan yang sama dan jenis pakan yang sama. Hal ini karena ternak dan daya cerna ternak berbeda. Sugeng (1992) menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi pertambahan bobot badan selain pakan, bangsa, jenis kelamin, lingkungan, juga dipengaruhi oleh umur dan bobot badan awal. Menurut Sarwono (2005), pakan sangat dibutuhkan oleh kambing untuk tumbuh dan berkembang biak. Hanya pakan yang sempurna yang mampu mengembangkan pekerjaan sel tubuh. Pakan yang sempurna mengandung kelengkapan protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral. Menurut Williamson dan Payne (1993), pertumbuhan merupakan pertambahan bobot badan atau ukuran badan sesuai dengan umur. Pertumbuhan dimulai dengan perlahan-lahan, kemudian berlangsung lebih cepat, selanjutnya berangsur-angsur menurun atau melambat setelah mencapai dewasa tubuh (Tillman et al., 1991).

4.6.      Sanitasi dan Penanganan Ternak yang Sakit

Sanitasi di KUD/KTT Sumber Makmur sudah cukup baik. Kegiatan sanitasi yang dilakukan meliputi, sanitasi kandang, sanitasi peralatan, sanitasi lingkungan perkandangan, dan sanitasi pekerja. Kandang dibersihkan setiap satu minggu sekali. Sanitasi pekerja dilakukan dua kali sehari (mandi) yaitu sebelum dan sesudah melakukan aktivitas di kandang. Sanitasi pekerja dilakukan agar kebersihan dan kesehatan pekerja dapat terjaga sehingga terhindar dari kuman penyakit yang mungkin berasal dari kambing yang sedang sakit.

Penanganan ternak yang sakit di KUD/KTT Sumber Makmur sudah cukup baik. Ternak yang mengalami mencret, diobati dengan cara diberi larutan garam dan gula masing-masing 10 gram dengan air ± 2,5 liter, atau diberikan larutan oralit atau tablet karbon aktif (norit) sebanyak 2 tablet, juga dapat menggunakan daun jambu biji yang sudah ditumbuk.

Kambing yang terserang kudis diobati dengan menyuntikkan Ivomic ± 2 ml dibawah kulit. Kulit yang terserang digosok dengan beberapa campuran serbuk belerang, kunyit, dan minyak kelapa yang dipanaskan. Selain itu, kambing juga harus disuntik hematopan ± 3 ml, untuk mencegah anemia.

Ilustrasi 7. Pemberian Obat pada Ternak yang Sakit.

Pengobatan pada kambing yang cacingan dilakukan dengan beberapa cara antara lain diberi obat cacing jenis Albendazole sebanyak 5 ml secara oral (Ilustrasi 7), obat cacing Dovenix ± 1 ml dan yang disuntikan di bawah kulit (Ilustrasi 8), atau diberi pelet buah pinang (jambe) tua. Selain itu, ternak disuntik dengan Hematopan ± 3 ml.

Pengobatan untuk kambing yang terserang kembung dengan cara memberikan minyak kelapa atau minyak kacang ± 100 ml, menekan perut yang kembung atau menusuknya antara tulang rusuk dan tulang panggul, mulut ternak diusahakan tetap terbuka dan ternak dalam posisi berdiri. Ternak disuntik dengan antibiotika 3 ml dan diberi permethyl 3%, atau minuman bersoda ± 200 ml.

Ilustrasi 8. Penyuntikan Dibawah Kulit.

Pengobatan untuk kambing yang terkena penyakit mata dilakukan dengan cara mengolesi mata dengan salep Terramycin 0,1 %, atau dengan disemprotkan air garam ke mata ternak secara rutin, bila sudah kronis diberi obat mata Sofradex.

Penanganan limbah di KUD/KTT Sumber Makmur, belum maksimal. Limbah padat di peternakan ini hanya di tampung saja, tidak diolah lebih lanjut. Limbah cair hanya dibuang, belum dikelola dengan baik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktek Kerja Lapangan di KUD/KTT Sumber Makmur Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara adalah tatalaksana pemeliharaan ternaknya sudah dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya pengadaan pakan, pengelolaan ternak, pertambahan bobot badan harian, sanitasi, pengendalian penyakit dan sistem perkandangannya.

5.2. Saran

Perlu adanya recording yang lebih jelas agar diketahui data tentang induk ternak, kebuntingan, dan perkawinannya. Selain itu, limbah padat dan cair perlu dikelola dengan baik, agar menambah penghasilan.

DAFTAR PUSTAKA

Blakely, J dan D.H. Blade. 1998. Ilmu Petemakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh: B. Srigandono ).

Devendra, C. Dan M. Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerbit ITB, Bandung

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Cetakan kesatu. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Jurgens. M. H. 1993. Animal Feeding and Nutrition. Seventh Edition. Kendall/ Hunt Publishing Company, Dubuque.

Mulyono, S. 2003. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan Ke -V. Penerbit PT Penebar Swadaya, Jakarta.

Mulyono, S dan B. Sarwono. 2005. Penggemukan Kambing Potong. Cetakan kedua. Penebar Swadaya, Jakarta.

Murtidjo, B.A. 2001. Memelihara Kambing sebagai Ternak Potong dan Perah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sarwono, B. 2005. Beternak Kambing Unggul. Cetakan Ke – VIII. Penerbit PT Penebar Swadaya, Jakarta.

Setiawan, T dan A. Tanius. 2003. Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sodiq, A. 2002. Kambing Peranakan Etawa Penghasil Susu Berkhasiat Obat. Cetakan Pertama. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Sosroamijoyo, M. S. 1991. Ternak Potong dan Kerja. Cetakan Ke-11. CV Yasaguna, Jakarta.

Sugeng, Y.B. 1992. Beternak Sapi Potong. CV Panebar Swadaya, Jakarta.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawiro kusuma dan S.                                                                                        Ledbosoekotjo. 1991. Cetakan ke-5. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Williamson, G dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Ilmu Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (diterjemahkan oleh S.G.N. D Darmaja).

Lampiran 1. Daftar Quesioner

1.      Keadaan Umum Peternakan

  1. Tinjauan Peternakan
  • Sejarah Peternakan
  • Nama Peternakan
  • Bentuk usaha
  • Tanggal berdiri
  • Pemilik Peternakan
  • Nomor surat izin berdiri
  1. Lokasi Peternakan
  • Alamat lokasi
  • Luas area Peternakan
  • Denah lokasi
  • Lay out Peternakan
  • Kapasitas kandang
  • Ketinggian dari permukaan air laut
  • Suhu
  • Kelembaban
  • Curah hujan
  • Sumber air
  • Jarak dari pemukiman
  1. Permodalan
  • Asal modal
  • Besar modal awal

  1. Struktur Organisasi
  • Jumlah manejer
  • Jumlah supervisor
  • Jumlah karyawan (karyawan tetap dan karyawan harian)
  1. Tenaga kerja
  • Jumlah tenaga kerja
  • Pendidikan tenaga kerja
  • Kesejahteraan tenaga kerja

  1. Fasilitas Perusahaan
  • Transportasi
  • Komunikasi
  • Lain-lain

2.      Unit Peternakan

  1. Luas areal
  2. Luas bangunan utama
  3. Luas bangunan penunjang
  4. Alat-alat penunjang di unit peternakan

3.   Metode Pengadaan Pakan

a.  Jenis pakan

b.  Asal pakan

c.  Kandungan PK

d.  Pola penyajian pakan                1. Ad libitum

2. Interval feeding

e.  Metode yang digunakan untuk menyusun  ransum

f.   Pemberian pakan/ekor/hari

g.  Pakan tambahan

h.  Pemberian minum/ekor/hari

i.  Vitamin yang diberikan

4.   Program Sanitasi di Lingkungan Peternakan

  1. Sanitasi terhadap pekerja
  2. Sanitasi terhadap perlengkapan
  3. Sanitasi terhadap peralatan
  4. Sanitasi terhadap kendaraan (transportasi)
  5. Alat yang digunakan untuk sanitasi
  1. Perkandangan

a.   Jumlah kandang

b.   Tipe kandang

c.   Lantai kandang (kemiringan)

d.   Dinding kandang

e.   Atap kandang

f.   Ukuran kandang

g.   Kapasitas kandang

h.   Bahan material kandang

i.    Jenis kandang

j.    Peralatan kandang

Lampiran 2 Data Konsumsi Hijauan serta Perhitungan Konsumsi BK dan PK

Kambing No. 1

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 1,8 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 2

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 1,8 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 3

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,2 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 2,0 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 4

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 1,8 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 5

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 1,9 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 6

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 1,9 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 7

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 1,9 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 8

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 1,9 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 9

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 2,0 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg

Kambing No. 10

Tgl

Pemberian

Daun Ketela Rumput Lapangan
Pemberian Sisa Konsumsi Pemberian Sisa Konsumsi
1 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
2 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
3 Agt 2007 2,5 kg 0,4 kg 2,1 kg 0,5 kg 0,5 kg
4 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
5 Agt 2007 2,5 kg 0,5 kg 2,0 kg 0,5 kg 0,5 kg
6 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
7 Agt 2007 2,5 kg 1,0 kg 1,5 kg 0,5 kg 0,5 kg
Rata-Rata Konsumsi 2,0 kg Rata-Rata Konsumsi 0,5 kg
  • Kandungan BK, PK dan TDN menurut pustaka.
Bahan Pakan BK PK TDN Keterangan
Daun Ketela 20,4 % 9 % 72,0 % Setiawan danTanius ( 2003)
Rumput Lapangan 21,8 % 8,29 % 54,0 % Setiawan danTanius ( 2003)
Bekatul 85,0 % 14,5 % 70,0 % Setiawan danTanius ( 2003)
  • Rata-rata Konsumsi Hijauan Segar Harian.
  1. Daun ketela           = 1,9 kg/ekor.
  2. Rumput lapangan  = 0,5 kg/ekor.
  • Rata-rata Konsumsi bekatul = 2,0 kg/ekor/hari
  • BK yang Terkonsumsi Perhari
  1. Daun Ketela                = 1,9 kg X 20,4 % = 0,38 kg/ekor
  2. Rumput Lapangan      = 0,5 kg X 21,8 % = 0,10 kg/ekor
  3. Bekatul                        = 2,0 kg X 85,0 % = 1,70 kg/ekor +

2,18 kg/ekor

  • PK yang Terkonsumsi Perhari
  1. Daun Ketela                = 0,38 kg X 9      % = 0,034 kg/ekor
  2. Rumput Lapangan      = 0,10 kg X 8,29 % = 0,008 kg/ekor
  3. Bekatul                        = 1,70 kg X 14,5 % = 0,246 kg/ekor +

0,288 kg/ekor

nyekoki wedussss....

my skripsi

•Februari 20, 2010 • 4 Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu bangsa sapi yang paling banyak dipelihara di Indonesia adalah sapi Peranakan Ongole (PO). Pemeliharaan sapi ini banyak mengalami kendala dan produksinya menurun, hal ini banyak dipengaruhi terutama dalam penyediaan pakan. Banyak peternak yang mengalami kerugian, karena banyaknya pakan yang langka di pasaran dan harga yang semakin melonjak naik. Beberapa hal sudah banyak dilakukan oleh peternak untuk menekan biayanya, mulai dari pemanfaatan sisa hasil pertanian sampai limbah-limbah pabrik.

Peternak untuk saat ini banyak yang memanfaatkan dedak padi sebagai pakan untuk ternaknya. Dedak padi sendiri adalah sisa atau limbah dari padi yang sudah diselep. Pemilihan dedak padi sebagai komponen konsentrat berawal dari banyaknya lahan pertanian yang ditanami padi, sehingga banyak produk samping berupa dedak padi yang dihasilkan. Sisi negatif pemberian dedak padi adalah tergantung pada musim, saat musim penghujan banyak petani menanam padi sehingga harga dedak padi rendah, sedangkan saat musim kemarau banyak petani tidak menanam padi sehingga harga dedak padi melonjak tinggi, bahkan kadang-kadang sulit didapatkan.

Industri roti yang banyak berproduksi di Indonesia diperkirakan 25% produksinya terbuang (tidak terjual) yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Selain untuk mengurangi sampah industri, hal ini juga dapat menekan biaya pakan karena harganya murah dan roti sisa ini selalu tersedia tanpa dipengaruhi oleh musim. Kandungan nutrisi roti sisa pasar (afkir) berdasarkan analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro tahun 2008, mengandung protein kasar (PK) 12,63%, serat kasar (SK) 0,13%, lemak kasar (LK) 4,63%, abu 4,19% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 78,42%. Dilihat dari kandungan BETN yang tinggi, roti sisa pasar tersebut  diduga dapat dicerna dengan mudah oleh rumen dan dapat menghasilkan imbangan asam asetat-propionat yang rendah. Hal ini dapat menunjang semakin baiknya produktivitas ternak, karena propionat akan diubah menjadi glukosa di dalam hati dan selanjutnya diubah menjadi glikogen  dan disimpan atau menjadi alfa-gliserofodfat untuk mensintesis trigliserida (Kamal,1994).

Kandungan protein dalam roti cukup baik. Protein yang terdegradasi dalam rumen menghasilkan amonia, CO2 dan fatty acid rantai pendek (Prawirokusumo, 1994). Amonia selanjutnya digunakan untuk menyusun protein mikroba. Untuk keperluan tersebut maka mikroba membutuhkan sumber energi, terutama yang berupa karbohidrat yang mudah dicerna yaitu pati atau gula (Kamal, 1994). Dijelaskan lebih lanjut, bahwa bila kadar amonia terlalu tinggi maka amonia akan diabsorbsi melalui dinding rumen menuju ke hati untuk diubah menjadi urea. Apabila perombakan amonia menjadi urea kalah cepat, maka kadar amonia di dalam darah menjadi naik dan mengakibatkan keracunan pada ternak yang akhirnya dapat mendatangkan kematian. Roti sisa pasar mengandung energi yang tinggi sehingga diduga efisiensi pembentukan protein mikroba lebih baik.

Roti sisa pasar dengan kandungan nutrisi seperti tersebut di atas sudah termasuk baik bila dibandingkan dengan jenis-jenis pakan ternak yang ada di pasaran atau bahan pakan konvensional. Kelebihan roti sisa pasar yang lain adalah harganya murah, sehingga diharapkan dapat menekan biaya pakan. Selain untuk menghemat biaya pakan, pemanfaatan roti sisa pasar dapat untuk mengatasi masalah lingkungan yang ditimbulkannya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produk fermentasi yang terjadi di rumen akibat pemanfaatan roti sisa pasar sebagai komponen konsentrat. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah dapat mengkaji lebih jauh tentang pemanfaatan roti sisa pasar dalam rangka menekan biaya pakan yang semakin tinggi.

Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan produksi amonia (NH3) cairan rumen, produksi protein mikroba, Volatile Fatty Acid (VFA) cairan rumen, dan NH3 darah pada sapi PO yang diberi konsentrat roti sisa pasa dengan dedak padi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sapi Peranakan Ongole

Sapi Peranakan Ongole (PO) adalah hasil persilangan antara sapi Ongole dan sapi-sapi setempat (sapi Jawa), sapi Ongole masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20 (Sosroamidjojo, 1991). Sapi PO memiliki ciri-ciri berwarna dominan putih, berpunuk besar, kulit longgar dengan banyak lipatan di bawah leher dan perut, telinga panjang menggantung dan mata besar (Murtidjo, 1993). Dijelaskan lebih lanjut oleh Sugeng (1996), ciri lainnya adalah warna pada jantan di bagian leher sampai kepala berwarna kelabu, lutut berwarna gelap, tanduk pendek dan tumpul, memiliki lipatan kulit di bawah perut dan leher, berat badan jantan dewasa rata-rata 550 kg, sedangkan betinanya sekitar 350 kg, dan sapi PO ini termasuk lambat dewasa (umur sekitar 4-5 tahun). Menurut Williamson dan Payne (1993), Sapi PO memiliki keunggulan, yaitu mudah beradaptasi di wilayah Indonesia yang beriklim tropis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Akhbar (2007), sapi PO yang diberi pakan rumput gajah dan konsentrat memiliki pertambahan bobot badan 590 g/hari.

2.2. Proses Pencernaan Pakan di dalam Rumen

Proses pencernaan pakan pada ruminansia meliputi proses mekanik, fermentatif, dan kimiawi. Ternak ruminansia melakukan proses pencernaan mekanik di rongga mulut. Ransum yang masih berbentuk kasar dipecah menjadi partikel-partikel kecil dengan bantuan gigi lewat proses pengunyahan dan pembasahan dengan saliva (Siregar, 1994). Pencernaan fermentatif pada ternak ruminansia terjadi dalam rumen atau retikulo rumen berupa perubahan senyawa-senyawa tertentu menjadi senyawa lain yang sama sekali berbeda dari molekul zat asalnya (Sutardi, 1980). Pencernaan kimiawi terjadi di abomasum karena pakan mendapat sekresi getah lambung dan di abomasum ini pula yang menghasilkan saliva untuk membantu proses pengunyahan pakan di mulut (Sarwanto dan Arianto, 2002; Arora, 1995). Dijelaskan lebih lanjut, bahwa pakan yang telah tercerna di abomasum mengalir ke usus halus (duodenum, jejunum, dan ileum) dan terjadi proses digesti dan absorbsi pakan (Prawirokusumo, 1994; Sarwono dan Arianto, 2002).

Volume rumen sapi dewasa mencapai 200 liter. Di dalam rumen terkandung mikroorganisme, bakteri dan protozoa yang menghancurkan bahan-bahan yang berserat, mencerna bahan-bahan tersebut dan membentuk asam-asam lemak mudah terbang, asam amino dan mensintesis vitamin B (Blakely dan Bade, 1998). Dijelaskan lebih lanjut oleh Blakely dan Bade (1998), bahwa organisme tersebut setelah mati merupakan sumber nutrisi bagi ternak induk semang. Jasad mikroorganismenya mengandung bermacam-macam nutrien (lemak, karbohidrat, protein, mineral, vitamin). Rumen memiliki kondisi yang anaerobik dengan temperatur 38-42 0C dan pH 6-7 (Banerjee, 1978). Nilai pH tersebut akan selalu tetap dipertahankan dengan adanya absorbsi asam lemak dan amonia serta saliva yang masuk (Arora, 1995).

Permukaan bagian dalam epitel rumen berpapila, bersisik, berlapis-lapis, berkeratin lunak dan dilapisi mukopolisakarida (Arora, 1995). Dinyatakan lebih lanjut bahwa epitel tersebut dapat mencernakan bahan kasar dalam digesta namun tidak bersifat sebagai kelenjar yang memiliki fungsi sekresi. Perkembangan papila dalam rumen seiring dengan perkembangan ukuran rumen, pertumbuhannya distimulasi oleh produk fermentasi bakteri (Preston dan Willis, 1970).

2.2.1. Pencernaan Karbohidrat

Menurut Parakkasi (1999), karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam kehidupan mikroorganisme rumen dan hewan ruminansia, terutama dalam bentuk karbohidrat komplek (misalnya selulosa dan hemiselulosa) disamping yang mudah larut (misalnya pati dan gula). Tillman et al. (1991), menyatakan bahwa selulosa dan hemiselulosa tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh ternak ruminansia, tetapi dapat dicerna oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroba rumen.

Fermentasi karbohidrat dalam rumen terjadi melalui dua tahap. Tahap pertama adalah pemecahan karbohidrat komplek menjadi gula sederhana, dan tahap selanjutnya pengubahan gula sederhana menjadi asam piruvat akan dihasilkan gas karbon dioksida (CO2), gas metan (CH4) dan volatile fatty acid (VFA) yang terdiri atas asam asetat, asam butirat dan asam propionat yang akan langsung diserap oleh dinding rumen dan dimetabolisasikan oleh ternak (Preston dan Leng yang dikutip oleh Darma, 2006; Preston dan Willis, 1970). Perubahan karbohidrat menjadi asam piruvat pada ternak ruminansia dapat dilihat pada Ilustrasi 1, sedangkan perubahan asam piruvat menjadi VFA pada Ilustrasi 2.

Volatile fatty acid (VFA) merupakan sumber energi utama bagi ternak ruminansia untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi (Anggorodi, 1980; Wiliamson dan Payne, 1993). Asam asetat dan propionat adalah komponen utama VFA yang merupakan produk utama dari proses fermentasi karbohidrat di dalam rumen (Arora, 1995). Dijelaskan lebih lanjut oleh Wiliamson dan Payne (1993), bahwa perbandingan asetat dan propionat merupakan salah satu indikator efisiensi pengggunaan energi.

Selobiosa                                    maltosa          isomaltosa

Glukosa-1-fosfat                                       glukosa

Glukosa-6-fosfat

sukrosa
pektin

Asam uronat

Fruktosa-6-fosfat                fruktosa

fruktan

Silosa

hemiselulosa

Fruktosa-1, 6-difosfat

silan

Asam piruvat

Ilustrasi 1. Perubahan Karbohidrat menjadi Asam Piruvat di dalam Rumen (Kamal, 1994).

Pemberian pakan dengan kandungan serat kasar rendah atau konsentrat tinggi pada ruminansia akan mengakibatkan imbangan asam asetat dan propionat di dalam rumen rendah, sehingga akan meningkatkan efisiensi pembentukan energi metabolisme (ME) untuk menunjang sintesis lemak (Wiliamson dan Payne, 1993).

Format               Asetil Ko A                    Laktat  Oksal asetat   Metil malonil Ko A

CO2 H2 malonil Ko A     Aseto asetil Ko A   laktil Ko A          Malat

metan                      β-hidroksi butiril Ko A   Akiril Ko A        Fumarat

Asetil fosfat               krotonil Ko A            propionil Ko A     suksinat

Butiril Ko A                                            suksinil Ko A

Asetat                         Butirat                Propionat

Ilustrasi 2. Perubahan Asam Piruvat menjadi Asam Lemak Volatil (Asam Asetat, Asam Propionat dan Asam Butirat) di dalam Rumen (Kamal, 1994).

Konsentrasi asam asetat yang dihasilkan dalam rumen kira-kira 50-60 % dari total VFA, sedangkan asam propionat 18-24 % dari  total VFA (Arora, 1995). Kadar VFA total pada kondisi normal sekitar 70–130 mM (Sutardi, 1980). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi VFA adalah jumlah mikroorganisme, proses fermentasi mikroba, dan konsumsi pakan (Arora,1995).

2.2.2. Pencernaan Protein

Proses fermentasi protein di dalam rumen menjadi amonia (NH3), gas karbon dioksida (CO2) dan metan (CH4). Amonia (NH3) digunakan untuk membangun sel mikroba, laju perombakkannya tergantung pada jenis pakan, tingkat kelarutan dan lama beradanya di dalam rumen. Protein di dalam rumen akan dirombak oleh enzim protease yang dihasilkan oleh mikroba proteolitik menjadi oligopeptida (Sutardi, 1980). Dijelaskan lebih lanjut, bahwa Oligopeptida yang terbentuk ini ada yang dimanfaatkan oleh mikroba rumen untuk pertumbuhannya, ada yang langsung masuk ke usus, sebagian lagi ada yang dihidrolisa menjadi asam amino. Sebagian asam amino yang dihasilkan ada yang diserap dalam dinding rumen, ada yang masuk ke dalam usus, ada yang langsung dimanfaatkan oleh mikroba rumen dan ada yang mengalami deaminasi menjadi asam alfa keto yang menghasilkan amonia dan CO2. Amonia di dalam rumen merupakan hasil degradasi asam amino pakan atau berasal dari nitrogen bukan protein (Forbes dan France, 1993; Arora, 1995). Dijelaskan lebih lanjut, amonia di dalam rumen merupakan bahan yang berguna untuk pembentukan protein mikroba di dalam rumen. Selain itu, fermentasi protein juga menghasilkan Volatile fatty acid (VFA).

Amonia merupakan salah satu sumber nitrogen (N) utama yang digunakan oleh mikroba untuk sintesis protein tubuhnya (Preston dan Willis, 1970). Dijelaskan lebih lanjut, sebagian besar (80%) mikroba rumen menggunakan NH3 yang terbentuk dari proses deaminasi asam amino.  Menurut Hess et al. (1994), konsentrasi NH3 cairan rumen untuk pertumbuhan optimal mikroorganisme pada sapi adalah sebesar 2-5 mg/dl dan proses fermentasi akan berjalan optimal pada konsentrasi 3,3-8,8 mg/dl. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi amonia antara lain adalah kelarutan bahan pakan, jumlah protein dalam ransum, sumber nitrogen dalam ransum dan waktu setelah pemberian pakan (Arora, 1995). Digesti dan metabolisme nitrogen pada ruminansia dapat dilihat pada Ilustrasi 3.

Urea
Urea

Amonia

Asam Amino

Protein                   NPN

Peptida

Asam Amino

Amonia

Protein Mikrobia

Protein                  NPN

Pakan                                                                                                                Saliva

Rumen                                                                                                                Hati

Abomasum                                                                                                    Jaringan

Urea

Endogenus Protein

Protein Tidak tercerna

Nitrogen Metabolik

dan Intestine                                                                                                   Tubuh

Feses                                                                                              Urin

Ilustrasi 3. Digesti dan Metabolisme Nitrogen pada Ternak Ruminansia (Bondi,  1987).

Proses produksi protein mikroba diawali dengan proses hidrolisis protein pakan oleh mikroba rumen. Proses hidrolisa protein menjadi asam amino diikuti oleh proses deaminasi untuk membentuk amonia, kemudian amonia yang dibebaskan akan digunakan untuk produksi protein mikroba bersama sumber energi (Arora, 1995). Dijelaskan lebih lanjut, selain amonia dari deaminasi asam amino, mikroba juga menggunakan sumber N yang berasal dari NPN pakan dan NPN dari urea yang berasal dari saliva atau yang masuk dalam cairan rumen melalui dinding rumen. Menurut Suprayogi (2003), pada sapi Peranakan Ongole (PO) yang diberi pakan berserat memproduksi N mikroba sebanyak 15-25 g/hari.

Mikroorganisme di dalam rumen dapat mencerna protein dan nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikroba (Anggorodi, 1980).  Menurut Arora (1995), faktor-faktor yang mempengaruhi produksi protein mikroba adalah pemecahan nitrogen pakan, kecepatan absorpsi amonia dan asam amino, kecepatan alir bahan keluar dari rumen, kebutuhan mikroba akan asam amino dan jenis fermentasi berdasarkan jenis pakan yang masuk.

Menurut beberapa pihak yang dikutip oleh Rianto (1997), ada beberapa metode estimasi produksi protein mikroba rumen, antara lain adalah metode asam diaminopimelic  acid (DAPA), ribonucleic acid (RNA), penandaan isotopic, yaitu melihat profil asam amino, dan menghitung jumlah derivat purin yang dilakukan lewat urin. Dari beberapa metode tersebut, metode yang paling murah dan relatif mudah adalah dengan melihat dari derivat purin, karena cara ini dapat dilakukan tanpa pembedahan.

Amonia (NH3) yang terbentuk melalui proses deaminasi di dalam rumen dan tidak digunakan oleh mikroorganisme dalam rumen akan diabsorbsi lewat vena porta, selanjutnya sebagian NH3 diubah menjadi urea di dalam hati dan sebagian masih berupa amonia yang kemudian masuk sistem peredaran darah (Tilman et al., 1991). Sebagian besar amonia yang diabsorpsi dan diubah di dalam hati menjadi urea serta yang  masih berupa amonia akan di recycling lewat saliva atau langsung secara difusi ke dinding rumen dan diekskresikan bersamaan dengan urin (Prawirokusumo, 1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi amonia darah adalah pakan yang dikonsumsi, proses degradasi protein, dan konsentrasi amonia di dalam rumen (Arora, 1995). Apabila kecepatan pembentukan amonia lebih besar daripada penggunaanya, maka amonia akan diserap ke dalam darah dan menyebabkan keracunan (Arora, 1995; Purbowati et al., 2004). Menurut Webb et al. (1972), pada sapi Jersey yang diberi pakan jerami dan konsentrat terdiri dari sorgum dan tepung kacang kedelai memiliki konsentrasi amonia darah sekitar 0,7-0,8 mg/dl.

2.3. Roti Sisa Pasar

Roti sisa pasar umumnya ada dua, roti tawar dan roti isi. Roti tawar adalah roti yang tanpa isi dan mempunyai rasa tawar, sedangkan roti isi adalah roti yang di dalamnya terisi oleh sesuatu semisal kacang hijau, kelapa, dan mentega (Salaamun, 2009). Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat roti adalah gula pasir, telur, margarin, minyak goreng, ragi roti, soda kue, dan bahan isi roti terdiri atas kacang hijau, kelapa atau bahan-bahan yang lainnya (National Research Council yang dikutip oleh Salaamun, 2009).

Roti yang tidak terjual di toko biasanya dikembalikan kepada pabrik yang memproduksinya, sehingga banyak roti sisa pasar yang menumpuk di pabrik roti dan biasanya dari pihak pabrik akan mengeringkannya dan menjualnya dengan harga yang lebih murah. Roti yang dikeringkan (dried bakery product) adalah bahan pangan yang didapat dari beberapa toko roti dan pengolahan bahan pangan (Champe dan Church, 1980). Berdasarkan analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro tahun 2008, roti sisa pasar (afkir) mengandung PK 12,63%, SK 0,13%, LK 4,63%, Abu 4,19% dan BETN 78,42%. Selama penyimpanan, roti mudah mengalami kerusakan akibat tumbuhnya jamur (kapang). Berbagai macam jenis makanan roti kering dan basah yang sudah kadaluwarsa atau basi, ternyata saat ini menjadi barang berharga sebagai pakan unggulan ternak (Astawan, 2004).

BAB III

MATERI  DAN METODE

3.1. Materi

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu Ternak Potong dan Kerja, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21 Juni sampai 11 Oktober 2008.

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 8 ekor sapi Peranakan Ongole (PO) dengan bobot badan rata-rata 275 + 16,4 kg (CV = 5,9 %). Sapi-sapi tersebut diberi rumput gajah secara ad libitum sebagai pakan basal. Empat ekor sapi diberi pakan konsentrat berupa campuran antara wheat bran dan dedak padi, empat ekor sapi lainnya diberi pakan konsentrat berupa campuran antara wheat bran dan roti sisa pasar sebagai pengganti dedak padi. Komposisi bahan pakan dapat penelitian pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Bahan Pakan dalam Penelitian.

Bahan Pakan BK Kandungan Nutrisi dalam 100% BK GE (Kalori/g)
PK LK SK Abu BETN
—————————————-(%)————————————-
D-Wb 88,59 9,23 1,55 29,57 16,66 42,99 3.512
R-Wb 85,37 9,81 10,74 3,04 2,41 74,00 4.182
R. Gajah 50,57 7,73 1,19 29,62 11,26 50,20 2.484

Keterangan: R-Wb: Roti dan Wheat bran; D-Wb: Dedak Padi dan Wheat bran ; dan R. Gajah: Rumput Gajah. (BK: Bahan Kering; PK: Protein Kasar; LK: Lemak Kasar; SK: Serat Kasar; BETN: Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen; GE: Gross Energi).

3.2. Metode

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 2 perlakuan dan 4 ekor sapi sebagai ulangan. Perlakuan pakan konsentrat pada penelitian ini adalah:

T1 : wheat bran (25 %) dan dedak padi (75 %).

T2 : wheat bran (25 %) dan roti sisa pasar (75 %).

Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap adaptasi, tahap pendahuluan dan tahap perlakuan. Tahap persiapan (3 minggu) meliputi persiapan kandang, persiapan pakan, pemilihan ternak dan analisis kandungan bahan pakan. Tahap adaptasi (6 minggu) meliputi penyesuaian sapi terhadap kandang, penyesuaian ternak terhadap pakan, dan pemberian obat cacing. Tahap pendahuluan (1 minggu) diawali dengan pengacakan ternak terhadap perlakuan pakan dan kandang. Rumput gajah diberikan secara ad libitum, sedangkan konsentrat diberikan dengan jumlah 1,5% dari bobot badan. Tujuan dari tahap pendahuluan adalah untuk menghilangkan pengaruh pakan sebelumnya. Tahap perlakuan (13 minggu) meliputi pengambilan data konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan harian (PBBH). Pada minggu ke lima dari tahap perlakuan dilakukan pengumpulan total urin dan feses selama 7 hari. Pada minggu terakhir dilakukan pengambilan cairan rumen dan darah.

Parameter yang diukur dalam penelitian ini meliputi konsumsi bahan kering (BK), konsumsi bahan organik (BO), konsumsi protein kasar (PK), konsumsi total digestible nutrients (TDN), konsumsi BO tercerna, pertambahan bobot badan harian (PBBH), konsentrasi VFA dan amonia (NH3) cairan rumen, konsentrasi amonia (NH3) darah, dan produksi protein mikroba (yang dihitung berdasarkan jumlah nitrogen). Konsumsi BK pakan dihitung dengan mengurangi pakan yang diberikan dengan sisa pakan dikalikan dengan kandungan BK pakan. Konsumsi BO dihitung dengan mengalikan kandungan BO pakan dengan konsumsi BK. Konsumsi PK dihitung dengan mengalikan konsumsi BK dengan kadar protein pakan. Konsumsi TDN dihitung dengan mengalikan 2,25 dengan lemak kasar tercerna lalu menambahkan PK tercerna, serat kasar (SK) tercerna, dan BETN tercerna. Konsumsi BO tercerna dihitung dengan mengurangi konsumsi BO dengan jumlah BO dalam feses. Pertambahan bobot badan harian didapat dengan cara mengukur pertambahan bobot badan selama periode perlakuan dibagi dengan lama waktu perlakuan.

Pengambilan sampel cairan rumen dilakukan dengan cara menyedot cairan yang ada di rumen sapi dengan menggunakan pompa vakum pada jam ke 0, jam ke 3, dan jam ke 6. Sampel cairan rumen tersebut kemudian dianalisis di PAU Universitas Gadjah Mada untuk mengetahui kandungan NH3 dan volatile fatty acid (VFA) cairan rumen. Pengambilan sampel darah dilakukan dengan mengambil darah di dalam pembuluh balik pada leher (vena jugularis). Sampel tersebut kemudian dianalisis di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada untuk mengetahui konsentrasi NH3 di dalam darah. Estimasi  produksi protein mikroba dilakukan dengan cara mengambil sampel urin, kemudian menghitung jumlah alantoin dalam urin tersebut, dan mengkalkulasikannya ke dalam N mikroba. Sampel urin dianalisis di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Menurut Chen dan Gomes (1995), efisiensi produksi protein mikroba merupakan perbandingan antara jumlah produksi N mikroba  dengan konsumsi bahan organik yang tercerna. Memperkirakan besarnya produksi protein mikroba dengan rumus berikut ini.

Ekskresi Allantoin (EA) = 0,85 x Ekskresi Derivat Purin (EDP)…………………… (1)

EDP = 1,1764706.EA……………………………………………………………………………… (2)

Korelasi antara Absorbsi Purine (AP) dan EDP :

EDP = 0,85 AP + (0,385 W0,75)……………………………………………………………. (3)

AP = EDP – 0,385 W0,75……………………………………………………………………… (4)

0,85

= 1,1764706 EA – 0,385 W0,75………………………………………………………… (5)

dimana W= bobot badan (kg)

Produksi N mikroba (gN/hari) =  AP x  0,727…………………………………………….. (6)

Produksi N mikroba (gN/hari)   =  1,1764706 EA – 0,385 W0,75 x  0,727…….. (7)

0,85

Efisiensi produksi protein mikroba = Produksi N mikroba        a……………………..

Konsumsi bahan organik tercerna………… (8)

3.3. Analisis data

Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan analisa t-student atau uji t yaitu membandingkan produk fermentasi pakan di dalam rumen antara sapi PO yang diberi pakan dedak padi dengan sapi PO yang diberi pakan roti sisa pasar.  Uji t menurut Gaspersz (1995) adalah sebagai berikut:

t =

=

S2 =

Keterangan:

= Simpangan baku perbedaan rata-rata hitung sampel ke-1 dan ke-2

S2 = Varians populasi

n1n2 = Jumlah subjek kelompok sampel ke-1 dan ke-2

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H0:    Tidak terdapat pengaruh antara produk fermentasi pakan di dalam rumen kelompok sapi PO RT-Wb dengan kelompok sapi PO DP-Wb. Dengan kata lain tidak ada perbedaan antara µ1 dengan µ2.

H1:    Terdapat pengaruh pemberian roti sisa pasar terhadap produk fermentasi pakan di dalam rumen kelompok sapi PO RT-Wb dengan kelompok sapi PO DP-Wb. Dengan kata lain terdapat perbedaan antara µ1 dengan µ2.

Kriteria hasil uji (taraf 1 %) pada penelitian ini adalah:

Apabila t hitung < t tabel, H0 diterima dan H1 ditolak.

Apabila t hitung > t tabel, H0 ditolak dan H1 diterima.

bab iv

hasil dan pembahasan

4.1  Konsumsi Bahan Kering dan Pertambahan Bobot Badan Harian

Data tentang konsumsi BK, konsumsi BO, konsumsi BO tercerna, konsumsi PK dan TDN serta PBBH tercantum pada Tabel 2. Semua parameter yang diamati tidak berbeda nyata (P>0,05). Hasil perhitungan statistik dapat dilihat pada Lampiran 1. sampai 6.

Tabel 2. Konsumsi Bahan Kering, Konsumsi Bahan Organik, Konsumsi Protein, Konsumsi Total Digestible Nutrients, Konsumsi Bahan Organik Tercerna, dan Pertambahan Bobot Badan Harian.

Parameter Perlakuan Ket.
D-WB R-WB
Konsumsi BK (g) 7.618 6.926 ns
Konsumsi BO (g) 5.506 4.454 ns
Konsumsi PK (g) 657 574 ns
Konsumsi TDN (g) 3.506 3.815 ns
Konsumsi BO Tercerna (g/hari) 3.450 3.476 ns
PBBH (g/hari) 307 408 ns

Keterangan : D-WB: Dedak Padi-Wheat Bran, ns: non signifikan, R-WB: Roti Sisa Pasar-Wheat Bran, BK: Bahan Kering, BO: Bahan Organik, PK: Protein Kasar, TDN: Total Digestible Nutrients, PBBH: Pertambahan Bobot Badan Harian.

Konsumsi BK pada sapi yang diberi pakan dedak padi dan roti sisa pasar tidak berbeda nyata (P>0,05). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kenyataan bahwa kandungan protein kedua perlakuan hampir sama. Sesuai pendapat Parakkasi (1999), bahwa kemampuan sapi mengkonsumsi ransum antara lain dipengaruhi oleh kualitas pakan seperti protein pakan. Hasil ini menunjukkan bahwa roti sisa pasar dapat menggantikan dedak padi dalam konsentrat. Pertambahan bobot badan harian hasil penelitian ini tidak berbeda nyata (P>0,05) karena konsumsi BK, konsumsi PK, konsumsi TDN, dan konsumsi BO tercerna juga tidak berbeda nyata (P>0,05). Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1999), bahwa PBBH dipengaruhi oleh konsumsi pakan pada ternak.

4.2. Volatile Fatty Acid Cairan Rumen

Hasil penelitian tentang konsentrasi VFA ditampilkan pada Tabel 3. Data selengkapnya pada Lampiran 7 sampai 20. Kandungan VFA rata-rata atau asam lemak mudah terbang sapi yang diberi pakan roti sisa pasar tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan sapi yang diberi pakan dedak padi. Hal ini dimungkinkan karena VFA adalah hasil dari pencernaan karbohidrat dan kandungan karbohidrat (SK dan BETN) pada pakan roti sisa pasar (77,04 %) hampir sama dengan dedak padi (72,56%) data selengkapnya lihat Tabel 1. Menurut Anggorodi (1980), volatile fatty acid (VFA) merupakan sumber energi utama bagi ternak ruminansia. Peranan dari asam lemak itu adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi untuk sapi (Wiliamson dan Payne, 1993).

Konsentarsi VFA pada penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Wibowo (2008), yang mendapatkan konsentrasi VFA sekitar 11,12 mM. Hal ini kemungkinan karena protein dan karbohidrat pakan pada penelitian ini lebih mudah terlarut. Sesuai pendapat Davies yang dikutip oleh Darma (2006), bahwa semakin tinggi kosentrasi VFA mencerminkan peningkatan protein dan karbohidrat pakan yang mudah terlarut. Menurut Sutardi (1980), pada kondisi normal kadar total VFA yang dihasilkan sekitar 70 – 130 mM. Mengacu pada pendapat tersebut, maka konsentrasi VFA yang dihasilkan pada penelitian ini termasuk normal.

Tabel 3. Konsentrasi Volatile Fatty Acid Cairan Rumen

Parameter Perlakuan Ket.
D + WB R + WB
Konsentrasi VFA  (mM)- rata-rata 48,14 49,94 ns
Asam Asetat                  – rata-rata 33,25 34,54 ns
– Jam ke 0 28,24 33,07 ns
– Jam ke 3 35,68 34,43 ns
– Jam ke 6 35,84 36,12 ns
Asam Propionat            – rata-rata 10,78 11,20 ns
– Jam ke 0 18,40 8,18 ns
– Jam ke 3 6,97 12,28 *
– Jam ke 6 6,98 13,12 ns
Asam Butirat                 – rata-rata 4,11 4,21 ns
– Jam ke 0 3,32 3,59 ns
– Jam ke 3 4,45 4,24 ns
– Jam ke 6 4,56 4,78 ns
Imbangan A/P pada jam ke 3 4,31 3,21 ns

Keterangan: VFA: Volatile Fatty Acid, *: berbeda nyata pada taraf 5%, dan ns (Non signifikan): tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

Konsentrasi rata-rata asam asetat, propionat, dan butirat menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan, kecuali konsentrasi asam propionat pada jam ke 3 pada sapi yang diberi pakan roti sisa pasar (12,28 mM) nyata lebih tinggi (P<0,05) dari sapi yang diberi pakan dedak padi (6,97 mM). Konsentrasi asam propionat dengan pakan roti sisa pasar yang lebih tinggi pada jam 3 kemungkinan karena rendahnya serat kasar pada roti sisa pasar daripada dedak padi (lihat Tabel 1).

Konsentrasi asam asetat sapi pada penelitian ini adalah 69,12% dari VFA total, sedangkan untuk konsentrasi propionat adalah 22,41% dari VFA total. Hasil asam asetat pada penelitian ini lebih tinggi daripada pendapat Arora (1995), yang menyebutkan bahwa konsentrasi asam asetat yang dihasilkan dalam rumen kira-kira 50-60%, sedangkan asam propionat sesuai dengan pendapat Arora (1995), yaitu sebesar 18-24%.

Pemberian pakan dengan kandungan serat kasar rendah atau konsentrat tinggi pada ruminansia akan mengakibatkan imbangan asam asetat dan propionat di dalam rumen rendah, sehingga akan meningkatkan efisiensi pembentukan energi metabolisme (ME) untuk menunjang sintesis lemak. Imbangan asetat-propionat (A/P) pada sapi yang diberi pakan roti sisa pasar sebesar 3,21 mM, tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan sapi yang diberi dedak padi sebesar 4,31 mM. Oleh karena itu, PBBH yang dihasilkan tidak berbeda nyata pula (lihat Tabel 2).

4.3. Konsentrasi Amonia Cairan Rumen

Hasil penelitian tentang konsentrasi Amonia (NH3) ditampilkan pada Tabel 4. Konsentrasi NH3 cairan rumen rata-rata pada sapi yang mendapat roti sisa pasar (6,11 mg/dl) lebih rendah (P<0,05) daripada sapi yang diberi pakan dedak padi (11,85 mg/dl). Perhitungan selengkapnya lihat Lampiran 21 sampai 24.

Tabel 4. Konsentrasi NH3 Rumen pada Jam ke 0, 3, dan 6.

Parameter Perlakuan Ket.
D + WB R + WB
NH3 (mg/dl) –  rata-rata 11,85 6,11 *
–  Jam ke 0 9,77 11,02 ns
–  Jam ke 3 15,03 3,01 **
–  Jam ke 6 10,75 4,32 *

Keterangan:  *: berbeda nyata pada taraf 5%, **: sangat nyata pada taraf 1%, dan ns (Non signifikan): tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

Konsentrasi NH3 cairan rumen pada sapi yang mendapat pakan dedak padi  pada jam ke 0 (9,77 mg/dl) tidak berbeda nyata (P>0,05) daripada sapi yang diberi pakan roti sisa pasar sebesar (11,02 mg/dl), hal ini dimungkinkan karena ternak belum mendapat pakan. Konsnetrasi NH3 cairan rumen jam ke 3 konsentrasi NH3 cairan rumen pada sapi yang diberi pakan dedak padi (15,03 mg/dl) sangat nyata lebih tinggi (P>0,01) daripada sapi yang diberi pakan roti sisa pasar (3,01 mg/dl), sedangkan pada jam ke 6 konsentrasi NH3 cairan rumen pada sapi yang diberi pakan dedak padi (10,75 mg/dl) lebih tinggi (P>0,05) daripada sapi yang diberi pakan roti sisa pasar (4,32 mg/dl) (lihat Tabel 4). Konsentrasi NH3 cairan rumen pada sapi yang diberi dedak padi lebih tinggi, kemungkinan disebabkan dedak padi mempunyai tingkat degradasi protein pakan yang lebih tinggi. Menurut Arora (1995) konsentrasi amonia di dalam rumen berasal dari degradasi protein pakan.

Ilustrasi 4. Konsentrasi NH3 pada jam ke 0, 3, dan 6

Konsentrasi NH3 cairan rumen dari kedua kelompok tersebut termasuk normal karena menurut Bondi (1987), konsentrasi N-NH3 dalam rumen berkisar antara 2-50 mg/dl. Hess et al. (1994), menyatakan bahwa konsentrasi NH3 untuk pertumbuhan optimal mikroorganisme untuk sapi adalah sebesar 2-5 mg/dl dan proses fermentasi akan berjalan optimal pada konsentrasi 3,3-8,8 mg/dl. Ilustrasi 4 menunjukkan, bahwa konsentrasi NH3 cairan rumen saat jam ke 0 pada semua perlakuan relatif sama, kemudian saat jam ke 3 saat setelah makan, konsentrasi NH3 cairan rumen sapi yang diberi pakan dedak padi meningkat, sedangkan sapi yang diberi pakan roti sisa pasar menurun. Kemudian pada jam ke 6 setelah makan, konsentrasi NH3 cairan rumen pada dedak padi turun, sedangkan pada roti sisa pasar naik. Hal ini dimungkinkan karena kelarutan dedak padi lebih tinggi daripada roti sisa pasar. Sesuai pendapat Arora (1995), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi amonia antara lain adalah kelarutan bahan pakan, jumlah protein dalam ransum, sumber nitrogen dalam ransum dan waktu setelah pemberian pakan.

4.4. Produksi Nitrogen Mikroba

Hasil penelitian tentang produksi N mikroba ditampilkan pada Tabel 5. Data selengkapnya pada Lampiran 25. Sapi dengan pakan yang mengandung roti sisa pasar menghasilkan produksi nitrogen mikroba (64,95 g/hari) yang lebih tinggi (P<0,05) daripada dengan pakan dedak padi (23,69 g/hari), walaupun kandungan NH3 cairan rumen sapi yang diberi pakan roti lebih rendah daripada NH3 cairan rumen sapi yang diberi pakan dedak padi. Hal ini tidak sesuai dengan pandapat Arora (1995), bahwa peningkatan konsentrasi NH3 di dalam rumen akan menyebabkan terjadinya peningkatan sintesis protein mikroba. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sumber energi dalam pakan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba, roti sisa pasar  memiliki kandungan energi lebih tinggi dibandingkan dengan dedak padi (lihat Tabel 1). Selain itu, kandungan serat kasar pada roti sisa pasar lebih rendah dan BETN lebih tinggi daripada dedak padi (lihat Tabel 1), artinya karbohidrat yang ada pada roti sisa pasar lebih mudah dicerna oleh mikroba rumen. Menurut Bondi (1987), keberadaan serat kasar biasanya disertai dengan lignin yang mengikat selulosa dan hemiselulosa serta protein pakan, sehingga sulit dicerna.

Menurut Suprayogi (2003), pada sapi Peranakan Ongole (PO) yang diberi pakan berserat memproduksi N mikroba sebanyak 15-25 g/hari. Perbedaan jumlah produksi protein mikroba ini dimungkinkan karena konsumsi bahan organik dalam penelitian ini lebih tinggi. Dijelaskan oleh Nolan (1993), pertumbuhan mikroba di dalam rumen sangat dipengaruhi oleh laju degradasi bahan organik sebagai sumber energi untuk sintesis protein mikroba. Dijelaskan oleh Arora (1995), bahwa produksi protein mikroba sangat tergantung pada pemecahan nitrogen pakan, kecepatan absorpsi amonia dan asam amino, kecepatan alir bahan keluar dari rumen, kebutuhan mikroba akan asam amino dan jenis fermentasi berdasarkan jenis pakan yang masuk.

Tabel 5. Produksi Nitrogen Mikroba.

Parameter Perlakuan Ket.
D + WB R + WB
Produksi N mikroba (g/hari) 23,69 64,95 *
Efisiensi Produksi N Mikroba (g N mikroba per kg KBOT) 6,68 19,38 *

Keterangan:  *: berbeda nyata pada taraf 5%, KBOT: Konsumsi Bahan Organik Tercerna.

Menurut Chen dan Gomes (1995), Efisiensi Produksi N Mikroba (EPNM) dihitung dari perbandingan produksi N mikroba dengan konsumsi bahan organik tercerna (KBOT). Clark et al. (1992), menyatakan efisiensi produksi N mikroba sangat berkorelasi dengan konsumsi bahan organik yang tercerna di dalam rumen. Dijelaskan lebih lanjut oleh ARC (1980), bahwa bahan organik yang tercerna di dalam rumen dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya suplai energi yang digunakan untuk sintesis protein. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa EPNM (lihat Tabel 5; Lampiran 26) sapi yang diberi pakan dengan komponen roti sisa pasar (19,38 g N mikroba per kg KBOT)  lebih tinggi (P<0,05) daripada pakan dengan komponen dedak padi (6,01 g N mikroba per kg KBOT). Hal ini dapat terjadi karena produksi N mikroba pada sapi yang diberi RT-WB (roti sisa pasar dan wheat bran) jauh lebih tinggi daripada sapi yang mendapat DP-WB (dedak padi dan wheat bran). Dengan kata lain perbedaan EPNM yang signifikan ini dipengaruhi oleh perbedaan dari produksi N mikroba, penggunaan roti sisa pasar dapat meningkatkan efisiensi produksi N mikroba rumen. Hasil penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian dari Suparjo (1999), yang melaporkan bahwa sapi PO yang diberi pakan rumput gajah, tepung daun kaliandra, pollard, bekatul dan tepung ikan memiliki EPNM sebesar 9,5-11,2 g N mikroba per kg KBOT.

4.5. Amonia Darah

Hasil penelitian tentang NH3 darah ditampilkan pada Tabel 6. Data selengkapnya tercantum pada Lampiran 27 sampai 30. Kandungan NH3 darah sapi yang diberi pakan roti sisa pasar (2,68 mg/dl) tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan NH3 darah pada sapi yang diberi pakan dedak padi (2,77mg/dl). Hal ini kemungkinan karena pada sapi yang diberi pakan roti sisa pasar dan sapi yang diberi pakan dedak padi di dalam sistem peredaran darahnya memiliki metabolis yang sama.

Tabel 6. Konsentrasi NH3 Darah pada Jam ke 0, 3, dan 6.

Parameter Perlakuan Ket.
D + WB R + WB
NH3 darah (mg/dl) – rata-rata 2,77 2,68 ns
– Jam ke 0 3,10 2,62 ns
– Jam ke 3 2,77 2,78 ns
– Jam ke 6 2,51 2,67 ns

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Webb et al. (1972), menunjukkan bahwa pada sapi Jersey yang diberi pakan jerami dan konsentrat yang terdiri dari sorgum dan tepung kacang kedelai memiliki konsentrasi amonia darah sekitar 0,7-0,8 mg/dl. Lebih tingginya konsentrasi NH3 darah pada penelitian ini dibandingkan dengan penelitian Webb et al. (1972), mungkin dikarenakan tingginya proses deaminasi asam amino pada penilitian ini. Menurut Purbowati et al. (2004), semakin tingginya kadar NH3 darah menunjukkan tingginya proses deaminasi asam amino yang berasal dari proses degradasi protein dalam rumen yang tidak diimbangi dengan pembentukan protein mikroba.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa roti sisa pasar dapat digunakan sebagai pengganti dedak padi dalam konsentrat. Hal tersebut dapat dilihat dari produksi N mikroba dan efisiensi produksi N mikroba pada roti sisa pasar yang lebih tinggi, sehingga dapat menunjang tingginya produktivitas ternak.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan adalah roti sisa pasar dapat digunakan sebagai komponen konsentrat pada sapi karena memiliki kandungan pakan yang baik dan harganya murah.

DAFTAR PUSTAKA

Akhbar, N. S. 2007. Deposisi Protein pada Sapi Peranakan Ongole dan Sapi Madura Jantan yang Dipelihara Secara Intensif. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. (Skripsi Sarjana Peternakan).

Anggorodi, R. 1980. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.

Agriculture Research Council (ARC). 1980. The Nutrient Requirement of Ruminant Livestock. Commonwealth Agricultural Bureaux, Slaugh.

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh R. Murwani).

Astawan, M. 2004. Kandungan Serat dan Gizi pada Roti Ungguli Mie dan Nasi. Kompas Cyber Media, Jumat, 18 Juni 2004.

Banerjee, G.C. 1978. Animal Nutrition. Oxford and IBH Publishing Co., New Delhi.

Blakely, J dan D.H. Blade. 1998. Ilmu Petemakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono ).

Bondi, A. A. 1987. Animal Nutrition. 1st Ed., A. Wiley-Interscience Publication, Chichester.

Camphe, K.A. and D.C. Church. 1980. Digestibility of dried bakery product by sheep. J. Anim. Sci . 51: 25-27.

Chen, X.B. and M.J. Gomes. 1995. Estimation of Microbial Protein Supply to Sheep and Cattle Based on Urinary Excretion of Purine Derivatives. Rowett Research Institute, Aberdeen.

Clark, J. H., T. H. Klusmeyer and M. R. Cameron. 1992. Microbial protein synthesis and flows of nitrogen fractions to the duodenum of dairy cows. J. Dairy Sci. 75: 2304-2323.

Darma, I. N. G. 2006. Koefisien Cerna Nutrien dan Kadar Metabolit Rumen pada Sapi Bali Bakalan yang Diberi Ransum Komersial dengan Suplementasi Multi Vitamin dan mineral. Fakultas Udayana, Bali. (Skripsi Sarjana Peternakan).

Forbes, J.M. and J. France. 1993. Quantitative Aspects of Ruminant Digestion and Metabolism. Cab International, New York.

Gaspersz, V. 1995. Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan. Tarsito, Bandung.

Hess, B.W., K.K. Park, L.J. Krysl, M.B. Judhins, B.A. McGrchen and D.R. Hanks. 1994. Suplemental protein for beef cattle grazing dormant intermediate wheatgrass pastura, effect on nutrient quality, forage intake, digesta kinetics, grazing behavior, ruminal fermentation and digestion. J. Anim. Sci. 72 : 2113-2123.

Kamal, M. 1994. Nutrisi Ternak 1. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Jakarta.

Murtidjo, B.A. 1993. Beternak Sapi Potong. Kanisius, Yogyakarta.

Nolan, J. V. 1993. Nitrogen Kinetics. In :J. M. Forbes and J. Frances (Ed.) Quantitative Aspects of Ruminant Digestion and Metabolism. C.A.B Inetrnational, Cambridge. Pp. 123-144.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia, Jakarta.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. BPFE, Yogyakarta.

Preston, T.R. and M.B. Willis. 1970. Intensive Beef Production. Second Edition. Pergamon Press, Oxford.

Purbowati, E. E. Baliarti. dan S. P. S. Budhi. 2004. Tampilan glukosa, NH3 dan urea darah domba yang digemukkan secara feedlot dengan pakan dasar dan level konsentrat berbeda. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. Special Edition October : Hal. 81-85.

Rianto, E. 1997. The Effects of Heat Stress and Water Restriction on Sheep Production, with Special Reference to Feed Intake, Digestibility and Microbial Nitrogen Production. University of New England, Armidale. (PhD Thesis)

Salaamun, R. 2009. Pengaruh Penggunaan Tepung Roti Afkir Sebagai Pengganti Jagung dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Broiler Jantan. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. (Skripsi Sarjana Peternakan).

Sarwono, B. dan H.B. Arianto. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid I Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sosroamijoyo, M. S. 1991. Ternak Potong dan Kerja. Cetakan Ke-11, CV Yasaguna, Jakarta.

Sugeng, Y. B. 1996. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suparjo. 1999. Studi tentang peran intestine digestible protein pakan dalam menunjang pembentukan protein mikroba rumen dan pertumbuhan sapi Peranakan Ongole. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. 2: 18-27.

Suprayogi, W. P. S. 2003. Sintesis protein mikroba sapi peranakan ongole yang diberi pakan berserat. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. 28: 115-118.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S.                                                                                        Lebdosoekotjo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Webb, D. W, E. E. Bartley and R. M. Meyer. 1972. A comparison of nitrogen metabolism and ammonia toxiticy from ammonium acetate and urea in cattle. J. Anim. Sci. 35: 1263-1270

Wibowo, A. 2008. Produksi Protein Mikroba dan Rasio Asam Asetat/Propionat pada Berbagai Umur Sapi Peranakan Ongole. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. (Skripsi Sarjana Peternakan).

Williamson, G. dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi ke-1. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh S.G.N.D. Darmadja).

tabung sempel cairan rumen

Hello world!

•Februari 20, 2010 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!